top of page
Search

Merekam Struktur Masyarakat Pada Tubuh

Jan 22, 2025
3 min read

Tubuh menjadi pilihan yang memungkinkan seseorang untuk menyampaikan sebuah pesan. Sebab tubuh belum tentu bisa tergantikan oleh lisan maupun tulisan. Begitu pula pada karya ‘Sebangun Tiga Sudut #2’ yang dibawakan oleh Ayu Permata Dance Project pada rangkaian Rubik (19/11) di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Tubuh yang dihadirkan memberikan banyak tawaran pada penonton, bahkan pada tubuh penari.

 

Sebagai koreografer, Ayu Permatasari memaparkan bahwa karya tari ini terinspirasi dari struktur yang ada pada masyarakat Lampung Pepadun. Merupakan oposisi berpasangan dan ‘tungku tiga batu’ yaitu; oposisi biner/berpasangan yang berlawanan namun saling membutuhkan sehingga mampu disatukan dalam perkawinan.

​

Gagasan karya ini diwujudkan dengan melepaskan tubuh tari di atas panggung, namun tubuh tari sejatinya sudah ada pada tubuh Ayu Permatasari dan Denta Pramana. Pertunjukan dihadirkan melalui aktivitas menyusun barang domestic dari beranda depan atau ruang tamu yang ditujukan untuk menguji kesetaraan dan keselarasan antara laki-laki dan perempuan. Menghani (laki-laki) dan Muli (perempuan) menjadi kedua subjek berlawanan dalam berinteraksi dan akhirnya menawarkan posisi untuk menyusun material tersebut.

​

Kehadiran ruang

​

Pemahaman akan membuka pengertian untuk tidak selalu meminta dipahami dari sudut padang pertunjukan. ‘Sebangun Tiga Sudut’ telah membentuk pemahaman akan ruang yang menjadi berbeda dalam pertunjukan. Pertama, kehadiran ruang tamu/beranda depan yang disimbolkan melalui benda domestic (yang telah dipersiapkan atau dibawa penonton) menjadi konteks utama dalam pertunjukan. Kedua, hadirnya ruang dapur melalui soundscape yang diputar dari awal hingga akhir pertunjukan. Ketiga, ruang indrawi penonton yang dihadirkan dengan bau terasi digoreng atau parfum ruang yang disemprotkan.

​

Hadirnya tiga ruang ini membawa pertunjukan pada sebuah symbol yang sangat kuat – peristiwa dari ketiga ruang telah menjadi ‘rumah’ tempat kembali dan kenemukan ‘kejati-dirian’ pada sebuah tempat dimana identitas dapat kembali dan diperhitungkan. Sehingga pertunjukan tidak lagi sebagai pandangan akan dunia, namun perasaan dunia yang dihadirkan dalam sebuah panggung pertunjukan.

​

Karya Seni Sebagai Perasaan Dunia

​

Dalam pranata modernism seni sering kali dipandang tanpa melihat konteks local yang sebenaranya menjadi variable utama dalam proses pengembangannya. Hal ini terjadi dalam pertunjukan ‘Sebangun Tiga Sudut #2’ – bahwa karya seni merupakan bagian dari ‘perasaan dunia’ bukan lagi sebagai ‘pandangan dunia’. Pada karya pertama dengan judul yang sama, Ayu masih menjadikan tubuh tari sebagai konteks utama dalam pertunjukan. Namun, akhirnya pada karya kedua ini, tubuh tari telah dilepaskan sehingga menekankan pada perasaan pada dunia (gagasan) yang akan disajikan – melalui benda domestic.

​

Seperti pandangan Clifford Geertz bahwa dalam membaca seni harus didasarkan pada konteks local yang disebut native’s point of view. Akhirnya – symbol, makna, konsepsi, bentuk, teks merupakan kebudayaan – sehingga kebudayaan tidak lagi tentang isi kepala manusia, tetapi lebih merupakan sesuatu yang menyatu di dalam symbol-simbol pada tingkat masyarakat. Setiap benda domestic yang dilihat, dicermati, dipegang dan disusun telah dianggap memiliki nilai dalam susunan masyarakat, kemudian susunan tersebut dijadikan sebuah bentuk melalui ketubuhan.

 

Namun akhirnya timbul pertanyaan dalam sebuah karya berjudul ‘Sebangun Tiga Sudut’ yang dihadirkan – Apakah yang hendak dicari oleh tubuh setelah dirinya lepas dari tari? Lalu jika pertunjukan ini bertujuan untuk menguji kesetaraan dan keselarasan antara laki-laki dan perempuan, maka apakah ujian tersebut telah terjawab? Walaupun seni merupakan ‘tatanan mental’, berada dalam wilayah spiritual atau berhubungan dengan transenden, namun secara wujud seni dapat dilihat, yang merupakan wujud atau pertunjukan, yang dialami secara indrawi – yang ketika diaktualisasikan akan sarat dengan human interpretative. Sebenarnya akan/selalu ada pilihan untuk melihat seni secara mendetail atau menyebarkan gagasan agar pemahaman multicultural dapat diwujudkan dalam area penonton.

 

Setidaknya para penonton akhirnya tidak selalu menilai budaya lain dengan sudut pandang budaya masing-masing. Kehadiran Lampung di Jogja tidak mengubahnya menjadi struktur masyarakat Jogja, namun tetap menjadi identitas Lampung.

 

Kulon Progo, 2022

 
 
 

Comments


@2025

bottom of page