top of page
Search

LV: Fesyen dalam Kehidupan Modern

Jan 22, 2025
3 min read


Pemikiran Simmel mengenai fesyen, dalam penelitian ini digunakan untuk melihat bagaimana perempuan pekerja lapis atas memilih dan menyikapi tas LV Kw asal China sebagai salah satu produk fesyen mewah tiruan yang memiliki peran penting secara sosial dalam kehidupannya. Sebelum melangkah lebih jauh, pemikiran Simmel menuntut adanya eksplorasi mengenai faktor-faktor yang melatari konsumsi tersebut, seperti bagaimana selera fesyen baik secara personal maupun kecenderungan di lingkungan perempuan pekerja lapis atas. Eksplorasi ini pula yang akan mengarahkan penganalisisan bagimanakah selera fesyen di tangan perempuan pekerja lapis atas mempengaruhi keinginan dan cara-cara untuk melakukan diferensiasi.

​

Secara spesifik, Simmel (1997) menggali bagaimana fesyen lahir dan memiliki kekuatan untuk mendorong setiap individu dalam masyarakat modern menyesuaikan diri dengan kekuatan sosial yang luar biasa, warisan sejarah, budaya eksternal, dan teknik kehidupan. Mengikuti fesyen sejatinya melakukan peniruan untuk dapat masuk ke dalam kelompok sosial tertentu. Sebagai individu, manusia bebas memilih dan tampil menjadi bagian dari kelompok yang diinginkan. Lebih lanjut dalam pemikirannya mengenai fesyen, Simmel (1997) menekankan bahwa meniru adalah cara melakukan transisi dari kehidupan umum ke dalam kehidupan individu dan menekankan unsur permanen dalam perubahan. Sebaliknya, dimanapun perubahan dikejar, dimanapun diferensiasi dan peningkatan diri dicari, tiruan ada sebagai prinsip peniadaan dan penahanan. Meniru merupakan pemaksaan kepada diri sendiri untuk bertindak dan bersikap seperti orang lain. Kebutuhan akan adaptasi sosial dapat terpenuhi dengan melakukan peniruan. Pada saat itu pula, meniru adalah cara memuaskan kebutuhan akan perbedaan melalui kecenderungan melakukan diferensiasi dan perubahan individual yang kontras.

​

Fesyen selalu bias kelas meskipun laju mode berlangsung secara vertikal. Hal inilah yang membuat mode dipandang sebagai produk divisi kelas. Dikaji menurut alurnya, mode digulirkan oleh masyarakat yang berada pada lapisan yang lebih tinggi untuk membedakan diri dengan masyarakat di lapisan yang lebih rendah (Simmel, 1997). Dalam konteks ini, lapisan masyarakat yang dimaksud dibedakan berdasarkan strata ekonomi. Masyarakat dengan kemampuan ekonomi tinggi lebih gesit dalam memperbaharui eksternalisasi kehidupan. Imbasnya, perkembangan fesyen pada masyarakat dengan kemampuan ekonomi tinggi menjadi lebih terlihat.

​

Berdasarkan lajunya, fesyen berangsur-angsur akan ditinggalkan oleh masyarakat yang pertama kali menggulirkannya ketika masyarakat pada strata ekonomi yang lebih rendah mulai meniru. Peniruan tersebut bisa ditujukan baik sebagai diferensiasi maupun variasi individu. Fesyen menjadi sebuah pencapaian tersendiri dari sekian banyak bentuk kehidupan. Sisi tak terduga dari fesyen adalah kemampuannya menarik setiap individu untuk mengadopsi segala hal yang ditawarkan. Fesyen serupa godaan luar biasa yang mengaburkan kesadaran individu akan batas-batas kemampuan yang dimiliki. Semakin dekat persamaan antara dua strata masyarakat, semakin kuat pula masyarakat yang berada di strata yang lebih tinggi terdorong untuk membedakan diri dan beralih mengadopsi sesuatu yang baru. Dinamika inilah yang dimanfaatkan industri fesyen untuk mempercepat peralihan.

​

Industri fesyen memiliki kekuatan untuk mengendalikan laju fesyen dengan fungsi ganda yang dimiliki. Fesyen memungkinkan seseorang tampil secara individual sekaligus sebagai bagian dari kelompok sosial tertentu secara bersamaan. Item fesyen diproduksi untuk mempertegas dan memegang lingkaran sosial tersebut serta menutupnya dari individu lain yang bukan termasuk di dalamnya. Tas, misalnya, industri fesyen tidak lagi menampilkan tas berdasarkan fungsi umum yang disesuaikan dengan kebutuhan manusia. Tas dalam hal ini ditampilkan berdasarkan siapa yang merancang dan memproduksinya, bagaimana cara memperolehnya, dan berapa banyak jumlah yang diluncurkan. Jawaban factor-faktor tersebut menjadi tanda-tanda yang melekat pada sebuah tas dan mewakili identitas pemiliknya. Dari sini menjadi semakin jelas bahwa fesyen menawarkan eksternalisasi kehidupan dan hanya bisa dicapai dengan kepemilikan uang.

​

Industri fesyen memiliki kekuatan untuk melanggengkan produksi dan konsumsi. Perputaran fesyen dipercepat melalui produksi besar-besaran sekaligus penerapan strategi pengusangan (planned obsolescence). Strategi tersebut membuat masyarakat pada strata ekonomi tinggi terburu-buru meninggalkannya sementara masyarakat pada strata yang lebih rendah beramai-ramai menyongsongnya. Pembentukan fesyen akan gagal jika di dalam prosesnya tidak memungkinkan akan kebutuhan intregasi sekaligus pemisahan (Simmel, 1997). Akibatnya, kelompok dari strata ekonomi yang lebih rendah akan memiliki mode yang terbatas dan tidak semua barang yang dimiliki mempunyai kespesifikan. 

​

Pada masyarakat yang cenderung stabil, fesyen menjadi lebih sukar berubah atau hanya memiliki sedikit gaya. Menurut Simmel, masyarakat primitif justru memperlihatkan kestabilan tersebut karena tidak memiliki bahaya percampuran dan pengaburan yang memacu klasifikasi kelas. Kebutuhan akan kesan dan bentuk kehidupan baru yang terlepas dari dampak sosial di kalangan masyarakat primitif pun lebih tinggi. Sebaliknya menurut Simmel, gambaran tersebut menunjukkan bahwa perubahan mode mencerminkan tingkat kepandiran akibat ketegangan akan kegugupan karena bertambahnya usia, percepatan mode, dan kebutuhan daya tarik untuk membedakan diri. Individu yang menempati strata lebih rendah dan berusaha mencapai strata di atasnya, pada akhirnya dipaksa untuk mengikuti keinginan fesyen karena dari sanalah imitasi eksternal dapat diakses dengan mudah.

 
 
 

Comments


@2025

bottom of page